hasan al-bana, pembaharu di mesir



Latar Belakang Mesir

Sebelum kita masuk  dalam materi tokoh, alangkah lebih baiknya mengulas latar belakang kehidupan di Mesir terlebih dahulu. Telah kita ketahui bahwasanya Hasan Al-Bana adalah bagian dari pembaharu Mesir . Perkembangan Islam di Mesir banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor dari bangsa Eropa. Yang mana memberikan dampak positif maupun negatif.  Diketahui pada abad ke-19 nasib baik politik dan ekonomi Mesir semakin erat terkait dengan Eropa. Selama awal 1800-an, Mesir mengekspor kapas ke Eropa dalam jumlah yang tak sedikit, dan ini menjadikan kapas sebagai hasil utama Mesir. Untuk memudahkan tumbuhnya perdagangan antara Mesir dan Eropa, para investor asing mendukung berbagai proyek untuk mengembangkan infrastruktur komunikasi dan transportasi modern. Pengaruh bangsa Eropa yang semakin meluas, membuat para elit kaya dan penguasa Mesir berperilaku dan beradat istiadat seperti orang Eropa. Tanpa disadari atau tidak penguasa dan masyarakat Mesir perlahan kehilangan kepribadian dan identitas negaranya. Karena mereka terbius oleh kultural Eropa yang masuk ke Mesir. Pada 1881, muncul suatu gerakan  menentang dominasi politik, ekonomi, dan budaya Eropa. tetapi karena kelihatan mengancam investasi asing, gerakan ini mendorong Inggris melakukan invasi pada september 1882. Meski Inggris akan menyatakan akan pergi kalau kepentingan asing dilindungi, namun mereka tetap berada di bumi Mesir hingga abad kedua puluh.
Begitupun keadaan politik semakin berkembang dikalangan istana raja, partai politik, dan Inggris. Perlu diketahui pula, bahwa keadaan ini mendominasi atas politik dan ekonomi Eropa disertai dominasi budaya yang terlihat pada kecenderungan elite Mesir untuk bergaya hidup Barat dan untuk memungut gagasan Barat, meski dengan mengorbankan keyakinan dan praktik tradisional Islam.[1]  
Kehidupan Hasan al-Banna (1906-1949)
Hasan Al-Banna tumbuh besar di kota Mesir, Mahmudiah. Ayahnya selain tukang reparasi jam, juga ulama. Seperti lazimnya masyarakat Mesir, Hasan mengikuti jejak ayahnya. Hasan belajar mereparasi jam, dan mendapat pendidikan agama dasar. Pada usisa dua belas tahun, hasan masuk sekolah dasar negeri. Pada waktu ini juga, Hasan masuk sebuah kelompok Islam, Himpunan Perilaku Bermoral. Himpunan ini menekankan agar menjalankan ritual dan moralitas Islam sepenuhnya.
Hubungan awal Hasan yang paling berpengaruh adalah dengan tarekat sufi Hasafiyah. Beliau bergabung pada usia tiga belas tahun. Kehidupan sufinya ini membuat Hasan merasakan betapa penting hubungan antara pemimpin dan pengikut. Selain itu, beliau juga senantiasa menghargai tasawuf, selama berada pada jalur yang benar.
Pada 1923 Banna pergi ke Kairo, untuk masuk Dar Al-‘Ulum, sekolah tinggi guru Mesir. Dan disinilah beliau belajar tarekat Hasafiyah cabang setempat. Selama lima tahun di Kairo, beliau menyaksikan roda politik Mesir. Yang banyak terpengaruhi budaya dan nilai sekular Barat. Akan tetapi ini dijadikannya sebagai peluru pertama untuk memulihkan masyarakat Islami di Mesir. Dalam perjalanan ilmiahnya, beliau menemukan orang yang sependapat dengannya yaitu ulama Azhar, Syaikh Yusuf Ad-Dijwi.  Yusuf gagal dalam menjalankan misinya yang dimaksudkan untuk membangkitkan Islam.
Gagasan Banna untuk program aksi, melibatkan pembentukan organisasi yang dipimpin oleh ulama. Beliau menerima tanggapan simpati dari Muhibuddin Al-Khatib, yang menerbitkan jurnal mingguan bernama Al-Fath, dan ikut mendirikan Asosiasi Pemuda Muslim (YMMA). Jelas ini menggambarkan gerakan pembaruan model baru. Kemudian beberapa bulan Banna mendirikan asosiasi yang bernama Ikhwanul Muslimun. Yang kemudian dibentuk peraturan-peraturan YMMA. Dan secara langsung posisi Ikhwanul Muslimun berdiri diatas fondasi yang diletakkan YMMA dan kelompok aktivis keagamaan lainnya. 
Setelah lulus dari Dar Al-‘Ulum pada 1927, Banna diangkat kementerian pendidikan menjadi guru bahasa Arab untuk sekolah dasar di Ismailiyah, yang berlokasi di Terusan Suez dan dilokasi markas besar Suez Canal Company. Banna ingin berbagi visi Islam reformisnya dengan masyarakat Ismailiah. Banna tak mau terlibat dalam berbagai faksi keagamaan lokal. Oleh karenanya beliau ceramah hanya sebatas di beberapa tempat saja.
Pada maret 1928, Bnna mendirikan Ikhwanul Muslimun dengan tujuan mempromosikan Islam sejati dan meluncurkan perjuangan melawan dominasi asing. Yang kemudian misi publik ambisius Banna membawanya pada rana  dunia politik.[2]
Pemikiran Hasan Al-Bana
Banna percaya bahwa kelemahan dan kerentanan muslim terhadap dominasi Eropa disebabkan oleh penyimpangan kaum Muslim dari Islam sejati.  Untuk membangkitkan Mesir kaum Muslim harus bertekad untuk kembali memahami dan hidup menurut Islam seperti yang ditegaskan dalam Al-Quran dan As-Sunah.[3]
Menurut beliau, pemahaman yang benar tentang Islam mensyaratkan pengenalan Al-Quran dan Sunnah, dua sumber otoritatif untuk menetapkan peraturan Islam untuk setiap keadaan.
Konsepsi Islam sejatinya Banna menuntut disucikannya keyakinan dan praktik keagamaan yang ada. Kaum muslim dalam beribadah haruslah berpegang pada kitab suci. Secara umum, kaum muslim harus memerangi bid’ah dalam praktik agama. Merujuk ke maraknya pemujaan terhadap wali, banna percaya bahwa memuji dan menghormati orang saleh karena amal salehnya itu boleh saja.
Adapun soal iman, Banna berpendapat bahwa siapa pun bisa disebut muslim, kalau dia mengaku percaya pada Allah dan kenabian Muhammad, berbuat sesuai kepercayaannya itu, dan menunaikan kewajiban agama. Bannna mengatakan bahwa yang disebut kafir itu adalah orang yang terang-terangan menyatakan murtsd, mengingkari keyakinan dan praktik-prktik yang lazim dikenal sebagai bagian dari Islam, dan sengaja mendistorsi (memutar balikan fakta) arti Al-Quran.  
Tulisan Banna soal agama dan politik, mencerminkan transisi  (peralihan) dari penekanan pembaru islam sebelumnya bahwa Islam dan politik tidak dapat dipisahkan. Baginya, Islam hanya meletakkan tiga prinsip pokok. Pertama, penguasa bertanggung jawab kepada Allah dan rakyat, bahkan dianggap sebagai abdi rakyat. Kedua, bangsa muslim harus bertindak secara bersatu, karena persaudaraan muslim merupakan prinsip iman. Ketiga, bangsa muslim berhak memonitor tindakan penguasa, menasehati penguasa, dan mengupayakan agar kehendak bangsa dihormati.
Banyak visi-visi yang di kemukakan oleh Hasan Al-Bana, antara lain mewujudkan visi ekonomi dan menegakkan tatanan budaya muslim serta menciptakan suasana masyarakat yang religius.
Hasan Al-Banna: Organisator dan Aktivis
Inovasi utama Banna untuk gerakan Islam modern terletak pada bidang praktis organisasi dan aksi.  Satu pelajaran yang dipetiknya yaitu bahwa para pemburu sebelumnya berniat baik namun tidak mengembangkan sarana yang efektif.  Beliau bertekad memperbaiki ini dengan menciptakan organisassi aktivis untuk menerapkan misi pembaruan Islam. Dalam mengembangkan organisasi, beliau memasukkan misi birokrasi.  
Adapun untuk pendekatan organisasi Ikhwannya yaitu dengan cara pragmatis, mengembangkan lembaga baru untuk mengendalikan kian banyaknya anggota, dan mengadakan percobaan dengan berbagai struktur. Pada 1946, Banna merumuskan serangkaiaan perintah yang dirancang untuk menjamin otoritasnya atas semua unit yang ada di organisasi. Dia menjadi pembimbing umum, jabatan puncaknya hingga beliau meninggal dunia.
Banna menanamkan aktivismenya kepada Ikhwanul Muslimin, dan mengarahkan mereka untuk memperlihatkan kesempernaan Islam dalam berbagai upaya mereka. Tujuan utama Ikhwan adalah menyebarkan dakwah Islam sejati, dan ini melibatkan pendidikan. Oleh karena itu, Banna membina masyarakat Muslimnya untuk memnfaatkan kejeniusan dalam menggunakan potensi orang-orang, kelompok dalam suatu kegiatan.[4]  
Banna menggambarkan proses pengembaraan Islam secara umum. Pertama, menyebarkan pesan melalui kuliah umum, pidato pada kesempatan upacara, dan penerbitan. Kedua, Ikhwan beraksi beersama kelompok seperti pengembara, yang mengembangkan kecakapan fisik dan bertempur, disamping meningkatkan disiplin keagamaannya. Ketiga, membuat misi Ikhwan berhasil, seperti terciptanya tatanan Islam.[5]
B. Sayyed Qutb
Kehidupan, Karier, dan Karya Tulis
Sayyed Qutb lahir pada Tahun 1906 dalam keluarga menengah di dusun Mesir. Qutb pindah ke Kairo pada 1920-an untuk menyelesaikan pendidikannya. Kemudian beliau diangkat menjadi guru dan inspektur pada Kementerian Pendidikan, menjadi pegawai disana sampai beliau mengundurkan diri pada 1953. Pada saat yang sama, beliau terkenal sebagai penulis dan kritikus sastra, dibawah bimbingan dan pengaruh tokoh seperti ‘Abbas Al-Aqqad.  Meski sebagai partisipan aktif yang minor dalam kalangan sastra di Kairo selama 1930-an dan 1940-an, Qutb juga terlibat dalam berbagai debat pada waktu itu. Debat yang diutarakan Qutb ini terlihat sebagai seorang moralis. Mengapa demikian?, karena Qutb memandang bahwa lingkungan masyarakatnya mengalami kemerosotan moral.
Kembalinya Sayyid Qutb ke Mesir pada 1950 bebarengan dengan berkembangnya krisis politik Mesir yang kemudian menyebabkan terjadinya kudeta militer pada Juli 1952. Selama periode inilah tulisan Qutb jadi lebih diwarnai kritik sosial dan polemik politik.
Kemudian pemahamannya mengenai visi Islam, dan interpretasinya mengenai kewajiban Islam, membentuk poros perkembangan tulisannya. Buku seperti Al-‘Adalah Al-Ijtima’iyyah fi Al-Islam (Keadilan Sosial Dalam Islam) (1949), Ma’arakat Al-Islam wa Ar-Rasmaliyyah (Pergulatan antara Islam dan Kapitalisme) (1951), dan As-Salam Al-‘Alami wa Al-Islam (Perdamaian dunia dan Islam) (1951), menegaskan kemampuan Islam untuk menjadi ideologi yamh diinginkan dan pas bagi dunia pada pertengahan abad kedua puluh, dan merupakan saksi bahwa Qutb menemukan watak ideologi ini yang sepenuhnya memuaskan. Menurut Qutb, Islam tampaknya punya jawaban untuk semua problem sosial dan politik pada waktu itu. Islam juga menyodorkan kemungkinan untuk menciptakan masyarakat yang harmonis dan padu.
Pada tahun 1954 terjadi pelarangan adanya Ikhwanul Muslimun, yang berakibat penahanan sementara Sayyed Qutb dan figur ikhwan lain. Kemudian selang beberapa bulan pada Februari/Maret 1945 mereka dibebaskan. Ini karena di dalam Dewan Komando Revolusi ada opsir-opsir berpengaruh yang takut melihat ambisi dan semakin berkuasanya Nasser.
Singkat kejadian, pada musim panas 1965 penahanan anggota dan simpatisan Ikhwanul Muslimin dimulai. Pada Agustus, Sayyed Qutb ditahan, begitu pula semua anggota kelompok yang dekat dengan dirinya. Dan pada September, pihak berwenang Mesir memeriksa kasusnya. Mereka menuduh ada persengkokolan besar yang diorganisasikan oleh Aparat Rahasia Ikhwanul Muslimin, dan bermaksud membunuh presiden Nasser serta menciptakan kekacauan umum, dan pada akhirnya akan merebut kekuasaan.
Ditangan jaksa, nasihat, desakan, peringatan serta polemik yang mewarnai Ma’alim Fi Ath-Thariq jadi mengancam, dan dipakai untuk menyusun dakwaan terhadap Sayyed Qutb. Qutb diadili oleh pengadilan militer, yang dimulai pada 12 April 1966. Sebagian besar berdasar pada tulisannya, namu juga pada ‘pengakuan’ orang lain, beliau dituduh berupaya menumbangkan pemerintah Mesir dengan kekerasan. Pada 21 Agustus 1966, Qutb bersama ‘Abduh Fatah Ismail dan mantan teman satu sel Qutb, Muhammad Yusuf Hawwasy, dinyatakan bersalah dan dihukum mati. Hukuman ini dilaksanakan pada 29 Agustus 1966, Sayyed Qutb dan dua temannya digantung.
Adapun beberapa karya tulis beliau yaitu Ma’alim Fi Ath-Thariq (Papan Petunjuk Jalan, 1964)[6], Fi Zhilal Al-Qur’an (Dalam Naungan Qur’an, 1952-1965), Adwaa’ ‘Ala Ma’alim Fith-Thariiq (Kejahiliahan Manhaj), Al-Hukum wa Qadhiyyat Takfiril Muslim (Hukum yang Melanggar dan Memerangi Syariat Allah).[7]
Visi Politik : dari Al-‘Adalah Al-Ijtima’iyyah fi Al-Islam ke Ma’alim fi Ath-Thariq
Berdasarkan perkembangannya ini, marilah kita lihat lebih dekat mengenai konsepsi politik Sayyed Qutb. Dari tulisan sosio-politik awalnya terlihat jelas bahwa Qutb mulai mendiagnosis penyakit masyarakatnya, dan memberikan ressep penyembuhan, dari posisi yang menggemakan kepedulian banyak orang-yaitu, bahwa dampak sistem kekuasaan Barat telah mengoyak-ngoyak masyarakat. Nilai, etika, dan norma masyarakat yang ada, mendapat tantangan bukan saja dari gagasan baru, namun bahkan dari sistem kekuasaan yang menjadikan gagasan itu lebih dapat dipercaya, persuasif dan menggiurkan.
Dalam buku Al-‘Adalah Al-Ijtima’iyyah Fi Al-Islam (1949), perhatian liberal dipadukan dengan perhatian orang yang cemas melihat kondisi masyarakat Islam. Namun dalam tulisannya dikemudian hari, Qutb semakin bergerak ke posisi dimana keadaan posisi ini dan otoritas yang mendukung eksistensinya harus lebih diutamakan atas pertimbangan lainnya. Dibawah logika argumennya sendiri, pada saat dia menulis Ma’alim Fi Ath-Thariq, Qutb meninggalkan gagasan individu yang mulanya dianut oleh beliau, dan semakin bergerak ke posisi dimana umat secara logis dan etis mendahului semua idividu yang membentuk umat itu.
Implikasi hal ini bagi visi politik Sayyed Qutb ada dua, yakni: pertama, politik kini kira-kira tak kurang dari menciptakan keserasian Ilahiah di dunia ini. Kedua, berpolitik berarti menangkap secara intuitif pengetahuan tentang kebenaran mutlak ini, pola dan keselarasannya, diikuti dengan pembantukan kembali secara radikal masyarakat yang sesuai dengan ritmenya. Dengan demikian, akan tercipta kembali umat yang damai, menentramkan hati dan bermoral, dan menyingkirkan semua perwujudan politik yang berdasar pada pilihan individu beserta egoisme dan konflik kepentingannya.[8]   
     
Daftar pustaka
David Commins, “Hasan Al-Banna (1906-1949)”, dalam Ali Rahnema (ed.), “Para Perintis Zaman Baru Islam”, (Bandung: Mizan, 1998),
Charles Tripp, “Sayyed Qutb : Visi Politik,” dalam Ali Rahnema (ed), Para Perintis Zaman Baru Islam, (Bandung: Mizan), 1998.

K. Salim Bahnasawi, “Butir-Butir pemikiran Sayyed Qutb: Menuju Pembaharuan Gerakan Islam ”, (Jakarta: Gema Insani).1982
Sayyed Qutb, Beberapa Studi Tentang Islam: Hasan Al-Bana dan Kejeniusan Pembangunan, dalam A. Rachman Zainuddin (penerjemah), (Jakarta: Media Da’wah, 1982)



Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel