Strukturalisme Levi-Strauss Mitos dan Karya Sastra oleh Heddy Shri Ahimsa-Putra

Model yang digunakan dalam Strukturalisme adalah gejala sosial-budaya sama seperti bahasa. Oleh sebab itu pembahasan awal dimulai dengan kajian mengenai bahasa itu sendiri. Meskipun bahasa modelnya bisa berupa homeomorph dan paramorph, model dalam strukturalisme adalah paramorph dimana subyek dan sumber model berbeda. Lebih lanjut dikemukakan bahwa, “Levi-Strauss memandang fenomena sosial-budaya … sebagai “kalimat” atau “teks” dimana ada suatu kesatuan yang diberi makna oleh seorang pengarang atau pembicara dan diucapkan oleh kata-kata yang membentuk suatu kalimat. Apa yang mendasari pemikiran tersebut adalah dari dua hukum yaitu arti dari sebuah teks tergantung pada arti dari bagian-bagiannya dan yang terakhir adalah “makna dari setiap bagian atau peristiwa dalam sebuah teks ditentukan oleh peristiwa-peristiwa yang mungkin dapat menggantikannya tanpa membuat keseluruhan teks menjadi tidak bermakna atau tidak masuk akal” (halaman 32 baris 9-12). Hal ini memberikan dua alternatif kepada seorang peneliti budaya yang menggunakan model bahasa dalam melihat gejala sosial budaya. Pertama adalah “mengambil semantik differensial yang informal sebagai modelnya dan menerapkannya langsung pada teks-teks tertentu, atau kalau boleh saya ungkapkan berdasarkan pada keterangan diatas adalah menerapkannya pada fenomena sosial-budaya tertentu, dan yang kedua adalah “mencoba menemukan semacam tata bahasa ala Chomsky atau fonologi ala Jakobson” atau menurut pemikiran saya adalah peneliti gejala sosial-budaya mencoba menganalisa gejala sosial-budaya seperti halnya menemukan suatu tata bahasa. Dan Levi-Strauss, menurut Ahimsa, memilih cara yang kedua.

Levi-Strauss dan Linguistik Struktural

Bicara pilihan Linguistik Struktural levi-Strauss kita perlu menengok dua ahli bahasa yang mempengaruhi Levi-Strauss yaitu Ferdinand de Saussure dan Roman Jakobson. Saya tidak akan mengetengahkan siapa Saussure dan Jakobson, karena telah diketengahkan oleh Ahimsa dalam buku ini, namun saya akan langsung kepada teori-teori atau pandangan-pandangan mereka yang mempengaruhi Levi-Strauss.

Ferdinand de Saussure

1. Penanda (Signifier) dan Tinanda (Signified)

Saussure menyatakan bahwa bagian dasar dari bahasa adalah linguistic sign yang mewujud dalam bentuk kata-kata. “Bagi de Saussure ide-ide tidak ada sebelum kata-kata dan secara psikologis pikiran kita … hanyalah suatu massa yang tak terbentuk dan tak mengenal perbedaan-perbedaan” (halaman 35 paragraf 2). Pandangan ini menimbulkan suatu pertanyaan atas makna dari kata-kata. Saussure mengungkapkan akan adanya signifier dan signified yang melekat pada sebuah kata dan adanya bentuk dan isi dari kata itu sendiri. Saat kita mengucapkan sebuah kata yang terwujud dengan suara, akan timbul konsep atau yang saya sebut pemvisualisasian dalam pikiran kita atas apa yang dikandung dalam kata tersebut. Kata yang berbeda akan menimbulkan suara yang berbeda dengan pemvisualisasian yang berbeda pula. Jelas nampak di sini adanya hubungan antara penanda dan tinanda (yang ditandai). Contoh: pada saat seseorang menyuarakan atau mengucapkan kata televisi maka visualisasi akan kata televisi yang ada dalam pikiran saya adalah bentuk tv itu sendiri yang berupa kotak persegi panjang dengan beberapa tombol dan antena.

2. Wadah (Form) dan Isi (Content)

Suatu kata memiliki wadah yang tetap dengan isi yang bisa berubah-ubah. Isi yang berubah-ubah ini berhubungan dengan kata-kata yang ada pada sebelum dan sesudah kata itu sendiri. Adanya perubahan isi karena kata-kata yang mendahului atau mengikuti kata itu membuat Saussure sampai pada dua pandangan yaitu bahwa “bahasa tidak lain adalah seperangkat perbedaan-perbedaan” (halaman 41 paragraf 3) dan “bahasa juga merupakan istilah-istilah yang saling tergantung (interdependent terms), dimana nilai dari setiap istilah atau kata adalah hasil dari kehadiran, keberadaan, istilah-istilah yang lain sekaligus” (halaman 42 paragraf 2).

3. Bahasa (Langue) dan Tuturan (Parole)

Langue, diutarakan dalam buku ini, adalah aspek sosial dari bahasa sedangkan Parole adalah “wujud atau aktualisasi dari Langue” (halaman 43 paragraf 3) atau pada halaman berikutnya di ungkapkan bahwa tuturan merupakan sisi empirik, sisi kongkrit dari bahasa sedangkan bahasa sendiri merupakan struktur yang tidak tampak. Karena bahasa mengalami perkembangan atau bersifat diakronis, Saussure membatasi kajian bahasanya pada bahasa yang bersifat sinkronis atau statis.

4. Sinkronis (Synchronic) dan Diakronis (Diachronic)

Dari uraian di atas jelas bahwa Saussure sadar adanya bahasa yang bersifat sinkronis dan diakronis. Oleh Saussure kemudian bahasa dibedakan menjadi bahasa sebagai sistem, atau yang bersifat sinkronis, dan bahasa yang telah telah mengalami evolusi. Menurut Ahimsa hal ini berhubungan dengan sifat arbitrair dari penanda dan tinanda dimana apabila terjadi perubahan pada bahasa maka akan terjadi pula perubahan pada penanda dan tinanda sehingga tanda “didefinisikan sebagai suatu entitas (entity) yang bersifat relasional atau dalam relasi-relasinya dengan tanda-tanda yang lain” (halaman 47 baris 1-2). Namun apabila kita ingin menentukan elemen-elemen dari bahasa, maka bahasa yang bersifat sinkronis lah yang harus dikaji.

5. Sintagmatik (Syntagmatic) dan Paradigmatic (Associative)

“Hubungan sintagmatik sebuah kata adalah hubungan yang dimilikinya dengan kata-kata yang dapat berada di depannya atau di belakannya dalam sebuah kalimat” (halaman 47 paragraf 2). Menurut Ahimsa “Hubungan paradigmatis dari seuah kata adalah hubungan-hubungan esensial yang dimilikinya di luar hubungan sintagmatik” (halaman 49 paragraf 2) sedangkan pandangan Saussure mengenai hubungan paradigmatis adalah “hubungan yang dimilikinya dengan kata-kata lain yang dapat menggantikanya dalam suatu kalimat tanpa membuat kalimat tersebut secara sintagmatis tidak dapat diterima atau tidak bermakna” (halaman 50 paragraf 2) dan pandangan yang terakhir ini lah yang menjadi landasan konsep relasi paradigmatis dalam Strukturalisme.

Dari pandangan-pandangan tersebut di atas dicapailah sebuah teori mengenai bahasa dimana bahasa dipandang sebagai “sebuah sistem istilah yang saling tergantung dimana nilai dari tiap-tiap istilah sepenuhnya merupakan hasil dari kehadiran istilah-istilah yang lain sekaligus.” (halaman 51 paragraf 2). Dan teori ini yang kemudian diajukan untuk mengkaji tanda-tanda dan simbol-simbol, dan fenomena budaya.

Roman Jakobson

Sistem-sistem kekerabatan dan variasinya banyak dikaji pada masa Jakobson dengan menitikberatkan pada asal-usul dan tujuannya. Penjelasan-penjelasannya dianggap oleh Levi-Strauss tidak memuaskan. Dan Levi-Strauss melirik analisa Jakobson yang dirasa dapat memberikan kontribusi. Jakobson berpikir bahwa “dengan memandang bahasa hanya sebagai suatu sistem bunyi maka dengan sendirinya “kata” tidak lagi dapat dianggap sebagai satuan linguistik yang paling dasar atau paling elementer” dan mengalihkan pandangannya pada fonem yang dianggapnya sebagai “satuan bunyi yang terkecil dan berbeda, yang tidak dapat bervariasi tanpa mengubah kata di mana fonem tersebut berada”. Analisis Jakobson mengambil sisi paradigmatis dari bahasa. Langkah-langkah, yang kemudian dibuku ini disebutkan sebaga langkah analisis strukturak, atas fonem yang dia ambil adalah (sebagaimana diuraikan pada halaman 55 paragraf 2):

mencari distinctive feature yang membedakan tanda-tanda kebahasaan satu dengan yang lain
memberikan suatu ciri menurut features tersebut pada masing-masing istilah
merumuskan dalil-dalil sintagmatis mengenai istilah kebahasaan mana yang dapat berkombinasi dengan tanda-tanda kebiasaan tertentu lainnya
menentukan perbedaan-perbedaan antartanda yang penting secara paradigmatis
Dari analisis ini dicapailah suatu pandangan bahwa “suatu fonem dapat didefinisikan sebagai hasil kombinasi dari sejumlah oposisi-oposisi berpasangan”.

Dalam buku ini diketengahkan juga pandangan ahli fonologi yang mempengaruhi Levi-Strauss yaitu Nikolai Troubetzkoy yang beranggapan “fonem sebagai sebuah konsep atau ide berasal dari para ahli bahasa dan bukan ide yang diambil dari pengetahuan pemakai bahasa tertentu yang diteliti” (halaman 58). Nikolai juga memandang perlunya distinctive feature. Analisis struktural Nikolai mengutamakan perlunya (sebagaimana diuraikan pada halaman 59 paragraf 3):

beralih dari tataran yang disadari ke tataran nirsadar
memperhatikan relasi-relasi antarisitilah atau antarfonem sebagai dasar analisis
memperlihatkan sistem-sitem fonemis dan menampilkan struktur dari sistem tersebut
harus berupaya merumuskan hukum-hukum tentang gejala kebahasaan yang mereka teliti.
Makna, Struktur dan Transformasi (Konsep)

Dalam bahasan selanjutnya mengenai makna, struktur dan transformasi diuraikan oleh Ahimsa bahwa “struktur adalah model yang dibuat oleh ahli antropologi untuk memahami atau menjelaskan gejala kebudayaan yang dianalisisnya, yang tidak ada kaitannya dengan fenomena empiris kebudayaan itu sendiri. Model ini merupakan relasi-relasi yang berhubungan satu sama lain atau saling mempengaruhi” (halaman 60). Sedangkan transformasi adalah “diterjemahkan sebagai alih-rupa atau malih dalam bahasa jawa ngoko” (halaman 61). Dalam pembahasannya lebih lanjut transformasi kemudian disebut sebagai alih-kode. Dalam sub bab ini Ahimsa mengemukakan pertanyaan, yang kemudian akan menjadi landasan pada kajian-kajiannya pada mitos-mitos dan karya sastra yang dia uraikan pada buku ini:

- Apakah fenomena budaya berstruktur?

- Seperti apa strukturnya?

- Bagaimana transformasi strukturalnya?

Asumsi Dasar Strukturalisme Levi-Strauss

Segala aktivitas sosial dan hasilnya dapat dikatakan sebagai bahasa-bahasa
“Dalam diri manusia terdapat kemampuan dasar yang diwariskan secara genetis sehingga kemampuan ini ada pada semua manusia yang “normal”, yaitu kemampuan structuring untuk menstruktur, menyusun suatu struktur, atau ‘menempelkan’ suatu struktur tertentu pada gejala-gejala yang dihadapi” (halaman 67 paragraf 3). Lebih lanjut diuraikan “Struktur yang ada pada sebuah mitos, suatu sistem kekerabatan, sebuah kostum, sebuah rituil, tatacara memasak dan sebagainya merupakan struktur-struktur permukaan” (halaman 67 paragraf 4.
“Relasi-relasi suatu fenomena budaya dengan fenomena-fenomena yang lain pada titik waktu tertentu inilah yang menentukan makna fenomena tersebut”
“Relasi-relasi yang ada pada struktur dalam dapat diperas atau disederhanakan lagi menjadi oposisi berpasangan (binary opposition)” (halaman 69 paragraf 3)
Levi-Strauss dan Mitos

Levi-Strauss beranggapan bahwa para ahli antropologi sebaiknya mengarahkan perhatian merka pada mekanisme bekerjanya human mind atau nalar manusia dan mencoba memahami strukturnya (halaman 75 paragraf 1) dan masyarakat sederhana diusulkan untuk dikaji karena proses-proses pemikiran mereka masih sederhana atau kalau yang saya pahami masih natural sebagaimana adanya tidak seperti masyarakat Eropa yang menurut Levi-Strauss telah banyak dipengaruhi oleh kondisi yang tidak natural. Mitos atau dongeng menurut Ahimsa diketengahkan karena merupakan perwujudan dari pemikiran-pemikiran masyarakat sederhana tersebut dimana hal-hal yang tidak masuk akal ditemukan. Kemiripan dongeng satu dengan yang lain, walaupun dongeng-dongeng tersebut berasal dari daerah yang berbeda-beda, dipandang bukanlah suatu kebetulan oleh Levi-Strauss. Kemiripan ini menjadi landasan Levi-Strauss untuk mengkaji nalar manusia. Alasan lain dikajinya mitos adalah persamaanya dengan bahasa dimana mitos dan bahasa kedua-duanya dalah media komunikasi untuk menyampaikan pesan dan juga adanya aspek langue dan parole dalam mitos yang ditunjukkan dengan beradanya mitos dalam reversible dan non-reversible time. Diajukan juga suatu pandangan bahwa karena makna dalam bahasa terletak pada kombinasi fonem-fonem maka mitos juga perlu dikaji dengan melihat “kombinasi dari berbagai tokoh dan perbuatan mereka serta posisi mereka masing-masing dalam kombinasi tersebut” (halaman 84, 3 baris terakhir). Persamaan mitos dan bahasa ini membuat Levi-Strauss mengeluarkan teori yang mengatakan bahwa ”Myth is language, functioning on an especially high level where meaning succeeds practically at “taking off” from the linguistic ground on which it keeps on rolling”.

Implikasi dari pandangan tersebut adalah munculnya asumsi-asumsi dasar pengkajian mitos:

Mitos terbentuk dari constituent units
Walaupun unit-unit dalam mitos ini sama seperti unit-unit bahasa, mereka juga berbeda satu dengan yang lain yang kemudian disebut sebagai gross constituent units atau mythemes.
Mitos diperlakukan sebagai simbol dan tanda sekaligus
Mitos juga dipandang oleh Levi-Strauss sama dengan musik dimana keduanya meminta perhatian dari struktur-struktur mental yang ada pada manusia, memerlukan dimensi waktu untuk mewujud dan keduanya melebihi bahasa lisan karena maknanya tidak dapat dipahami seperti kita memahami bahasa lisan atau kata demi kata.

Analisis Struktural Mitos: Metode dan Prosedur

Landasan pemikiran untuk analisa:

Mitos dipandang sebagai sesuatu yang bermakna
Hanya ciri-ciri tertentu mitos yang dapat disamakan dengan ciri-ciri bahasa
Ciri-ciri mitos lebih kompleks dan rumit daripada bahasa
Prosedur analisa:

Mencari miteme
Miteme adalah unsur-unsur dalam konstruksi wacana mitis yang juga merupakan satuan-satuan yang bersifat oppositional, relatif dan negatif (halaman 94). Miteme juga merupakan segmen atau peristiwa.

Menyusun miteme
Bundles of relations perlu ditemukan dan dianalisis dalam tahap ini yang kemudian disusun secara paradigmatis dan sintagmatis

Levi-Strauss dan Analisis Struktural (Analisis Struktural Levi-Strauss pada Kisah Oedipus, Kisah si Asdiwal, Mitos-Mitos Indian Amerika dan Kritik-Kritik)

Kisah Oedipus

Berdasarkan analisa strukturalnya pada kisah Oedipus, Levi-Strauss beranggapan bahwa berbagai bentuk simbolisasi yang ada dalam mitos-mitos tersebut memang mengalamai transformasi-transformasi dan transformasi ini mengikuti aturan-aturan logika tertentu secara ketat (halaman 109, bagian akhir paragraf 1).

Kisah si Asdiwal

Analisis struktural Levi-Strauss pada kisah ini dimulai dengan menelusuri peta perjalanan Asdiwal, tataran geografis, yang kemudian terkait dengan tataran ekonomi, tataran sosiologis yang didalamnya diuraikan mengenai kebudayaan patrilokal dan matrilokal yang dialami oleh Asdiwal dan juga pernikahan eksogami dan endogami dan juga adanya tataran kosmologis yang ditafsirkan ada dalam tataran sosiologis tersebut.

Dalam kisah ini Levi-Strauss melihat adanya aspek urutan dan skemata. Aspek urutan adalah diceritakannya kisah ini secara kronologis atau berurutan sedangkan skemata adalah adanya skemata yang muncul secara bersamaan atau overlap.

Untuk menampilkan pesan yang ingin disampaikan dari kisah si Asdiwal ini, Levi-Strauss menganalisa satu mitos yang berhubungan dengan kisah si Asdiwal ini yaitu kisah si Waux yang tak lain adalah anak dari Asdiwal. Kisah si Waux ini dipandang sebagai a dialectic regression oleh Levi-Strauss dimana adanya pelemahan dalam segi fungsi perantara dalam tokoh Waux namun juga adanya progression dimana pembalikan akan adanya yang meninggal karena kekenyangan dan bukannya kelaparan pada kisah Asdiwal.

Dari kisah Oedipus, Asdiwal dan Waux dicapailah suatu teori bahwa fungsi mitos adalah untuk mengungkapkan kegagalan suatu sistem perkawinan dengan sepupu matrilateral atau dengan kata lain oleh Ahimsa diungkapkan pada halaman 135 paragraf 2 yang menyatakan:

Singkatnya dongeng Asdiwal dan anaknya, menurut Levi-Strauss, merupakan simbolisasi kegagalan dari upaya nalar dan masyarakat Tsimshian untuk mendamaikan, menyatukan, paradoks-paradoks, kontradiksi-kontradiksi yang ada dalam berbagai tataran kehidupan mereka, termasuk di antaranya paradoks dalam kehidupan sosial yang muncul akrena adanya pola afiliasi (matrilinieal) yang berlawanan dengan pola tempat tinggal (patrilokal).

Mitos sebenarnya tidak berupaya untuk melukiskan atau menampilkan yang ada, tetapi untuk membenarkan kekurangan-kekurangan yang ada dalam kenyataan, sebab “the extreme positions” are only imagined in order to show that they are untenable.” (halaman 135 paragraf 2)

Dan kegunaan penganalisaan mitos secara struktural untuk para peniliti fenomena budaya adalah diketahuinya pengelompokkan-pengelompokkan nalar manusia yang berada pada tataran nirsadar dan pemikiran masyarakat sederhana pun terstruktur.

Kritik

Cara penggunaan konsep-konsep analitis yang dirasa kurang tepat
Tidak konsitenannya Levi-Strauss dalam prosedur analisis.
Reduksi yang terjadi dalam proses analisis
Permasalahan lain yang ditemukan oleh Douglas muncul karena upaya Levi-Strauss yang ingin mengetahui pesan atau isi yang disampaikan serta untuk mengungkap bahasa atau alat yang digunakan untuk mengatakan atau menyampaikan pesan. Namun hal ini tidak mendasar karena bagi Levi-Strauss isi adalah struktur itu sendiri dan hal tersebut tidak dapat diketahui tanpa melihat bentuk formal dari pengungkapan isi atau pesan yaitu bahasa.

Kritik yang lain adalah terhadap interpretasi data etnografi yang dibuat oleh Levi-Strauss dimana tafsir Levi-Strauss dianggap penuh dengan generalisasi-generalisasi etnografis.

Hasil Analisis Levi-Strauss juga tidak lepas dari kritikan:

Kemampuan analisis struktural menuntaskan tafsir yang diberikan
“Kebenaran” struktur mitos yang dikemukakan
Diterangkan lebih lanjut bahwa analisis struktural ini hanya sesuai untuk menganalisa sistem-sistem atau hal-hal yang bersifat sistematis saja karena sifat sinkronis bahasa yang menjadi landasan Levi-Strauss. Hal ini dijawab oleh Lvi-Strauss yang mendasari analisanya dengan pemikiran bahwa manusia pada dasarnya memiliki nalar yang sama atau bisa juga dikatakan, oleh Ahimsa, bahwa hasil analisis tersebut merupakan hasil dari nalar Levi-Strauss (halaman 173 paragraf 3). Meskipun Levi-Strauss dengan mengatakan bahwa pemikiran peneliti adalah conscious sedangkan pemikiran tineliti adalah unconscious, struktur dan tata bahasa seluruhnya berada pada tataran nirsadar.

Kelebihan Analisis Struktural

(Sebagaimana dituliskan pada hal 175 – 178)

Mampu mengungkapkan acuan-acuan tertentu, makna-makana yang sangat dalam, yang tak terduga dan menarik, dari serangkaian mitos-mitos tertentu.
Berhasil memperlihatkan pada publik pembacanya bahwa mitos-mitos yang dianalisisnya tidaklah bervariasi begitu saja tanpa aturan
Berhasil memperlihatkan bagaimana pemikiran masyarakat pemilik mitos-mitos tersebut ternyata tidak berkeliaran bebas begitu saja
Leach lebih menekankan pada perspektif analisa struktural itu sendiri bukan pada hasil atau metodenya. Yang kemudian oleh Ahimsa ditambahkan bahwa menurut Ahimsa metode juga penting dan lebih lanjut Ahimsa mengungkapkan sepakatnya dia terhadap pendapat Leach yang menyatakan bahwa analisa struktural ini bukanlah satu-satunya teknik yang bermanfaat dah perlu diikuti dengan ketat untuk menganalisa mitos dan totem (halaman 177 paragraf 4).

Analisis Struktural Ahimsa untuk Mitos-Mitos di Indonesia dan Karya Sastra Umar Kayam

Pada Bab V – Bab IX diketengahkan contoh-contoh analisis struktural Levi Strauss yang beberapa tidak mengikuti secara ketat analisa struktural Levi-Strauss. Mitos-mitos yang dianalisa adalah dongeng Pitoto si Muhamma yang merupakan dongeng orang Bajo, dan dongeng Sawerigading dan Dewi Sri yang bertemakan larangan incest dan kekuasaan yang kemudian dalam sub babnya dibahas juga mengenai pernikahan yang ideal yang dapat ditafsirkan dari dongeng Sawerigading dan Dewi Sri tersebut.

Sedangkan karya sastra Umar Kayam yang Ahimsa analisa secara struktural adalah Sri Sumarah, Bawuk dan Para Priyayi yang menurut Ahimsa adalah upaya Umar Kayam untuk menjawab pertanyaan dirinya, sebagai sosok yang berada dalam posisi luminal, tentang siapakah yang patut menjadi korban dalam peristiwa Gestapu.

Selain itu pada Bab VIII juga diketengahkan pemikiran Ahimsa akan keberadaan orang Jawa yang berada pada posisi luminal dalam kaitannya dengan agama Islam yang ditegaskan oleh Ahimsa bahwa orang Jawa adalah orang Islam yang tidak nyekek namun juga Hindu. Dan diketengahkannya teori bahwa Babad Tanah Jawi merupakan dongeng yang menggambarkan “terserapnya” ajaran Islam dalam kehidupan orang Jawa serta pesan-pesan yang secara implisit menyatakan bahwa ajaran Islam merupakan takdir orang Jawa untuk memeluknya. Saya tidak dapat memberikan komentar apa-apa dalam hal ini selain bahwa contoh-contoh analisa ini sangat membantu saya untuk memahami Strukturalisme itu sendiri.



Di tulis dan di analisis oleh Prof. Dr. Heddy Shri Ahimsa Putra, M.A., M.Phil.


Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel