Musik Tradisional Sebagai Musik Masa Depan yang diperhitungkan


Kolaborasi musik tradisional Sunda dan Jazz dikatakan sebagai musik masa depan oleh Guru besar ilmu perbandingan musik di Universitas La Sapienza Prof. Dr. Franco Piperno. Mengapa bisa demikian?

Hal itu disampaikannya usai menyaksikan pertunjukan “the Soul of West Java, Indonesian classical and contemporary dance and music”, ujar Counsellor Pensosbud KBRI Roma, Musurifun Lajawa. Kolaborasi musik tradisional Sunda dan musik jazz yang dipersembahkan musisi STSI Bandung dengan Krakatau Band mendapat sambutan meriah dari sekitar 700 penonton yang memadati Aula Magna, Universitas La Sapienza, Roma.

Prof. Dr. Franco Piperno saat menyaksikan pertunjukan menyebutkan bahwa koloborasi musik tradisional dan kontemporer (jazz) dari Indonesia sebagai “musik masa depan”, yang akan mempengaruhi perkembangan musik dunia. Musik, tari, dan lagu yang juga ditampilkan STSI Bandung di Roma, termasuk Srikandi Mustakaweni, Topeng, Silat, Merak, Jaipongan, Kecapi Piano, Topeng Jazz dan Rampak Kendang.

Ada juga Prof. Dr. Jacob Sumardjo yang dalam lokakarya menjelaskan sejarah dan filfasat alat-alat kesenian Sunda dari yang klasik sampai kontemporer. Sebelum pertunjukan, Ketua STSI Bandung, Drs. Enoh, M.Hum dan Dekan Fakultas Sastra dan Filsafat, La Sapienza, Prof. Dr. Franco Piperno melakukan penanfdatanganan MoU kerja sama pendidikan, mencakup pertukaran mahasiswa, pengajar serta promosi seni dan pagelaran budaya secara timbal balik.

"Baca Juga: Al Farabi and Invention Brilliant of Music"

Sebagai langkah awal STSI Bandung menghibahkan seperangkat Gamelan Degung kepada jurusan musik etnis (etnomusikologi), Fakultas Sastra dan Filsafat, La Sapienza. Secara simbolis Dubes RI Roma, Mohamad Oemar atas nama pemerintah RI dan STSI Bandung menyerahkan gamelan tersebut kepada Dekan Fakultas Sastra dan Filsafat La Sapienza, Prof. Dr. Franco Piperno. Rombongan STSI Bandung akan melanjutkan pertunjukan di konservatorium musik Napoli malam ini dan di Venezia.