MASIGNCLEAN103

Aromaterapi Mawar


Salah satu herbal esensial yang digunakan dalam aromaterapi
adalah mawar. Aroma mawar efektif pada sistem saraf pusat. Dua
bahan dari aromaterapi mawar, sytrinol dan 2-phenyl ethyl alcohol,
pada mawar dikenal sebagai agen anti ansietas. Menggunakan mawar
oil mengurangi kecemasan sebesar 71% dalam persalinan dan hanya
14% dari mereka yang membutuhkan pembiusan lokal.

Beberapa bahan kimia yang terkandung dalam minyak atsiri
bunga mawar diantaranya sitral, sitronelol, geraniol, linalol, nerol,
eugenol, feniletil, alhohol, farnesol, nonil, dan aldehida (Rubkahwati,
Purnobasuki, Isnaeni, dan Utami, 2013). Pada saat aroma terapi
minyak esensial bunga mawar dihirup, molekul yang mudah menguap
akan membawa unsur aromatic yang terkandung didalamnya seperti
geraniol dan linalol kepuncak hidung dimana silia-silia muncul dari
44 sel-sel reseptor. Apabila molekul-molekul menempel pada rambutrambut tersebut, suatu pesan elektro kimia akan ditranmisikan melalui saluran olfaktori ke dalam system limbik. Hal ini akan merangsang memori dan respon emosional. Hipotalamus yang berperan sebagai
regulator memunculkan pesan yang harus disampaikan ke otak. Pesan yang diterima kemudian diubah menjadi tindakan berupa senyawa elektrokimia yang menyebabkan perasaan tenang dan rilek serta dapat memperlancar aliraan darah.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa dengan melakukan
inhalasi pada aromaterapi mampu menurunkan tingkat kecemasan
seseorang (Davis, 2005; Indrati, 2009). Butje & Shattel (2008) juga
menyebutkan bahwa inhalasi terhadap minyak essensial dapat
meningkatkan kesadaran dan menurunkan kecemasan. Efek positif
pada sistem saraf pusat diberikan oleh molekul-molekul bau yang
terkandung dalam minyak essensial, efek positif tersebut menghambat
pengeluaran Adreno Corticotriphic Hormone (ACTH) dimana hormon
ini adalah hormon yang mengakibatkan terjadinya kecemasan pada individu.
Dampak positif aromaterapi terhadap penurunan tingkat
kecemasan disebabkan karena aromaterapi diberikan secara langsung
(inhalasi). Mekanisme melalui penciuman jauh lebih cepat dibanding
rute yang lain dalam penanggulangan problem emosional seperti stress
dan kecemasan, termasuk sakit kepala, karena hidung/penciuman
mempunyai kontak langsung dengan bagian-bagian otak yang bertugas
merangsang terbentuknya efek yang ditimbulkan oleh aromaterapi.

Hidung sendiri bukanlah organ untuk membau, tetapi hanya
memodifikasi suhu dan kelembaban udara yang masuk. Saraf otak
(cranial) pertama betanggung jawab terhadap indera pembau dan
menyampaikan pada sel-sel reseptor. Ketika aromaterapi dihirup,
molekul yang mudah menguap dari minyak tersebut dibawa oleh udara
ke “atap” hidung dimana silia-silia yang lembut muncul dari sel-sel
reseptor. Ketika molekul-molekul itu menempel pada rambut-rambut
tersebut, suatu pesan elektro kimia akan ditransmisikan melalui bola
dan olfactory ke dalam sistem limbic.
Hal ini akan merangsang memori dan respons emosional. Hipotalamus berperan sebagai relay
dan regulator, memunculkan pesan-pesan ke bagian otak serta bagian tubuh yang lain. Pesan yang diterima kemudian diubah menjadi tindakan yang berupa pelepasan senyawa elektrokimia yang menyebabkan euporia, relaks atau sedative. Sistem limbik ini terutama digunakan untuk sistem ekspresi emosi (Koensoemardiyah, 2009).
Aromaterapi terkenal dengan penggunaannnya dalam mengatasi stress (Varney & Buckle, 2013), dan secara jelas, persalinan merupakan pengalaman stress untuk hampir semua ibu. Oleh
karenanya hal ini tidak mengejutkan jika beberapa laporan saat ini menyarankan aromaterapi untuk menurunkan stress pada kehamilan.


Share This :
Miftah Faried Sanusi Abdullah

Kelahiran ciamis, yang mulai berkenalan dengan bangku sekolah di tasikmalaya, dengan sekarang sampai pada jenjang universitas di salah satu universitas terkenal di indonesia, tepatnya jakarta! berklahiran juli 1990