Sayur Pakis dan Turubuk yang Melegenda di Tanah Sunda

Pangandaran selalu identik dengan kata ‘laut’ tapi tidak dengan daerah kelahiranku,,pangandaran ujung yang apa-apa serba gunung dan sayuran, tidak ada bau ikan sama sekali, banyak sekali tanaman atau sayur-sayuran yang bisa dimakan di daerahku,salah satunya adalah PAKIS. tahu gak sih kalian pakis Turubuk dan Kecombrang itu bias di masak dan menjadi makanan khas, ternyata ada juga yang sudah menulis dalam resep-resep makanan Nusantara.

Kalaulah perempuan hamil, mungkin saya terus mengidam tentang sayur pakis tersebut. Saya selalu mencari tahu orang tua saya dulu suka masak atau tidak tentang hal itu. Kata Ua saya, dulu iya Ema (nenek saya) suka masak pakis. Tapi sekarang, tangkal pakisnya juga hampir hilang. Kebun tegalan yang sebegitu luasnya tidak lagi menghasilkan pakis. Ya satu atau dua masih ada, tapi pakis yang tidak bisa dimakan.


Saya sempat berpikir, mungkin di pasar-pasar tradisional Tasikmalaya, pakis masih bisa ditemukan. Atau di swalayan-swalayan yang menyediakan keperluan untuk kuliner, pakis masih bisa ditemukan --dunia kan sudah terbalik.

Makanan ini jika disajikan di Pangandaran pantainya, akan menjadi sang primadona yang tak akan kalah dengan hidangan seekor lobster yang menawan, dan ikan kakap yang menjadi legenda masakan see food. Apalagi kalau kalian datang bersama orang yang datang dari wilayah  atau pulau tetangga pasti mereka akan kaget dengan disajikannya sang turubuk dan pakis yang sungguh  menggoda bagi sebagian orang yang sudah tahu rasanya seperti apa’

Subuh-subuh setelah salat, saya siap membatu memasak. Bismillah, daun pakis saya amati, tangkainya saya rabai, daun mungilnya saya rasai dengan segenap jiwa saya. Pikiran saya kumelayang ke masa silam. Terbayang ibukota Kerajaan Sunda, Pajajaran, di wilayah Barat yang tiap sisi jalan menuju ke arahnya dihiasi pohon pakis yang ngajajar. Terbayang ibukota Kerajaan Sunda, Kawali, di wilayah Timur juga dihiasi pohon-pohon pakis. Terbayang penduduk Kerajaan Sunda yang memanfaatkan pohon-pohon pakis ini untuk teman nasi.

Ya, bayangan-bayangan manusia masa kini yang tidak mengalami sendiri pengalaman itu. Mungkin hanya imaji, mungkin hanya interpretasi, atau kegilaan seorang yang neurosis akan keindahan masa lalu yang mungkin sama  sekali tidak indah.

Tak sadar saya ngemat Raja Sunda, entah yang mana, benak saya noroweco bahwa saya akan memasak daun pakis ini. Daun pakis yang muncul dari masa silam, masa purba, yang mengandung  muatan sejarah dan budaya. Daun pakis yang menjadi motif pekakas para lelaki dan motif sisi-sisi jamang (baju) dan motif batik kain yang dibuat para wanita.

Daun pakis jajar memancar pada seni kriya, memancar pada desain, memancar pada penataan taman, memancar pada seni interior dan eksterior tiang-tiang pancang kerajaan, memancar pada kuliner Sunda heubeul yang hidup sampai sekarang.berdampingan dengan turubuk yang benar-benar indah ketika masih dibungkus dengan daun-daun yang menyelimutinya.

Saya sangat bangga ikut andil memasak daun pakis ini. Walau sembarang orang bisa memasaknya dengan sangat lezat, tapi mungkin mereka tidak mempunyai kesadaran akan kesejarahan seperti saya muatkan pada masakan saya. Inilah mungkin yang disebut muatan semiotik yang dikatakan Roland sebagai pemaknaan mendalam.


Bumbu-bumbu saya racik sendiri, bumbu khusus sambel cikur ditambah sambal terasi yang wanginya sungguh mengingatkanku pada masa dimana orang sedang membajak disawah bersama kerbau dan pacul-pacul, terasi ini menjadi ciri khas yang selalu tapil didepan para petani yang kelelahan setelah bekerja.

Ya, untuk juru masak tak berpengalaman dan jarang masak seperti saya, sajian akhir sayur pakis ini, menjadi lumayanlah. Walaupun kata dahuan, daun pakis ini ditumis biasa juga enak, apalagi ditambah udang dan dibanjur santan, tentu sedap sekali.

Sayangnya di dapur tidak ada combrang. Kalau ada, lengkap sudah kuliner purba dimasak dengan bumbu purba juga --combrang dalam sastra Sunda kuno adalah tanaman bumbu yang diperebutkan paman Lengser Kerajaan Pajajaran dan Lengser Kerajaan Muaraberes, karena istri raja dari kedua kerajaan tersebut sedang hamil muda dan mengidamkannya untuk membumbui rujak.

Yang terpenting dari semua ini, saya mempunyai kesadaran dalam aktivitas saya. Kesadaran sejarah dan budaya, mungkin. Dan kesadaran itu pula yang membuat masakan saya lebih bernilai walau kata mamah, sayur pakis dan turubuk saya rasanya sedikit sama dengan rasa air laut Pangandaran.


Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel