Percakapan Tuhan dengan Manusia

Salah satu pendekatan yang luar biasa dari Al-Quran yaitu digunakannya metode dialog dalam menyampaikan pesan. Dalam beberapa hal al-Quran bisa dianggap sebagai kumpulan dialog, yang meliputi dialog Allah dengan malaikat; Allah dengan para Nabi; malaikat dengan para Nabi dan orang pilihan; para Nabi dengan kaumnya; bahkan dialog Allah dengan iblis, dialog allah dengan mereka yang kelak mendapat azab, dan dialog penduduk surga dengan penduduk neraka. Belum lagi kita dapati respon al-Quran terhadap pertanyaan-pertanyaan ataupun problematika yang muncul sebagai interaksi antara Nabi Muhammad dengan penduduk Mekkah dan Madinah. Lebih dahsyat lagi, lewat al-Quran, Allah menggunakan ayat-ayatNya sebagai medium berdialog langsung dengan kita semua.
Miftahfaridsa.Site - Salah satu pendekatan yang luar biasa dari Al-Quran yaitu digunakannya metode dialog dalam menyampaikan pesan. Dalam beberapa hal al-Quran bisa dianggap sebagai kumpulan dialog, yang meliputi dialog Allah dengan malaikat; Allah dengan para Nabi; malaikat dengan para Nabi dan orang pilihan; para Nabi dengan kaumnya; bahkan dialog Allah dengan iblis, dialog allah dengan mereka yang kelak mendapat azab, dan dialog penduduk surga dengan penduduk neraka. Belum lagi kita dapati respon al-Quran terhadap pertanyaan-pertanyaan ataupun problematika yang muncul sebagai interaksi antara Nabi Muhammad dengan penduduk Mekkah dan Madinah. Lebih dahsyat lagi, lewat al-Quran, Allah menggunakan ayat-ayatNya sebagai medium berdialog langsung dengan kita semua.
    Allah menggunakan pertanyaan untuk memulai dialogNya dengan kita semua, itupun dengan berbagai variasi yang luar biasa. Misalnya, ada ayat yang berbunyi: "mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan maisir...." atau di ayat lain: "mereka bertanya kepadamu tentang ruh...." Perhatikanlah bagaimana dialog Nabi dengan kaumnya diambil alih oleh Allah dan kemudian Allah langsung yang memberi jawabannya. Atau sering pula Allah mengajari cara berdialog seperti dalam ungkapan "Katakanlah: Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan dari bumi?’ atau di ayat lain "Katakanlah: apakah sama orang-orang yang mengetahui dan orang-orang yang tidak mengetahui?"
    Metode dialog lain yang dipakai adalah yang mampu memancing rasa ingin tahu pendengar/pembaca, dengan cara menyebut satu topik, kemudian diikuti dengan pertanyaan. Misalnya: "Hari kiamat. Tahukah kamu apa itu hari kiamat?" atau "Sungguh telah Kami turunkan al-Quran pada lailatul qadr. Tahukah kamu apa itu lailatul qadr?"
    Atau yang belakangan ini membuat saya sangat terpesona dengan retorika Allah berdialog ketika Allah seakan-akan bertanya apa pendapat kita:
"Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang seorang hamba ketika mengerjakan shalat? Bagaimana pendapatmu jika orang yang dilarang itu berada di atas kebenaran, atau dia menyuruh bertakwa (kepada Allah)? Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu mendustakan dan berpaling? Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya?"
    Membaca al-Quran dengan dialog yang begitu menyentuh seakan membawa kita hanyut ke dalam pelaku dialog --seolah-olah kitalah yang sedang berdialog kelak. Perhatikan contoh dialog penduduk neraka dan surga ini:
“Lalu sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain sambil bercakap-cakap. Berkatalah salah seorang di antara mereka: “Sesungguhnya aku dahulu (di dunia) mempunyai seorang teman, yang senatiasa berkata: “Apakah kamu sungguh-sungguh termasuk orang-orang yang membenarkan (hari berbangkit)? Apakah bila kita telah mati dan kita telah menjadi tanah dan tulang belulang, apakah sesungguhnya kita benar-benar (akan dibangkitkan) untuk diberi pembalasan?" Berkata pulalah ia: “Maukah kamu meninjau (temanku itu)?” Maka ia meninjaunya, lalu dia melihat temannya itu di tengah-tengah neraka menyala-nyala. Ia berkata (pula): “Demi Allah, sesungguhnya kamu benar-benar hampir mencelakakanku. Jikalau tidaklah karena nikmat Tuhanku pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret (ke neraka)."
    Lihatlah betapa variatif dan dinamisnya cara-cara Allah berdialog di dalam al-Quran. Ini artinya, tidak segan-segan Allah berdialog dengan siapa saja, termasuk iblis sekalipun. Bagaimana dengan kita yang sering menutup pintu dialog dengan orang yang berbeda penafsiran dengan kita? Begitupula Allah memilih menyelesaikan perbedaan lewat dialog dua arah, karena kalau satu arah, namanya monolog, dan ini persis dengan para dai kita yang seolah sering bicara sendiri tanpa ada relasi atau ikatan emosional dengan jamaahnya. Disamping itu, Allah menggunakan beragam teknik berdialog yang bukan saja memesona dengan retorika yang memikat tapi juga disesuaikan dengan lawan bicaranya. Dialog yang membuat kita berpikir. Dialog yang membuat kita menghela nafas panjang, merasakan dan meresapi maknanya. Dan tiba-tiba kita tercekat dan berkaca-kaca membaca ucapan salam dari Allah dalam dialogNya: "salamun qawlan min rabbir rahim".
Amtsal
    Selain menggunakan metode dialog, al-Quran juga menggunakan metode perumpamaan (amtsal). Saat kita tadarus di bulan suci ini, ada baiknya sesekali kita resapi juga berbagai perumpamaan yang Allah ungkapkan di dalam kitab suciNya. Mengapa al-Quran banyak sekali membuat berbagai perumpamaan?
    Penulis yang cemerlang biasanya kaya akan berbagai ungkapan metafor dan perumpamaan. Pesan yang ingin disampaikan tidak cukup hanya disajikan dengan datar dan lurus saja. Tanpa berbagai perumpamaan tulisan kita akan jadi kering, seperti gurun pasir yang merindukan curahan hujan, seakan-akan penulis hendak mencuri mentari di atas kepala kita dan menyembunyikannya dalam jalinan kata.
    Orang tua ataupun guru juga gemar membuat perumpamaan karena kita akan lebih mudah mencerna pesan, nasehat, perintah atau bahkan kemarahan mereka sehingga kita tidak menjadi "katak dalam tempurung" karena "tong kosong nyaring bunyinya".
    Nah, Allah tahu persis bahwa kita akan lebih paham wahyuNya melalui berbagai perumpamaan yang diambil dari alam semesta, legenda, bahkan hewan sekalipun. "Sesungguhnya telah Kami buatkan bagi manusia dalam Al Qur'an ini setiap macam perumpamaan supaya mereka dapat pelajaran" (Al-Zumar:27) dan dalam ayat lain Allah memberi perintah kita untuk "Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu" (Al-Hajj:73). Kenapa demikian? dan ini jawaban Allah: ”Sesungguhnya Allah tidak malu membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?”. Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Baqarah: 26)
    Jadi perumpamaan itu bukan saja sekedar untuk menyampaikan pesan dan hikmah, tapi juga menjadi ujian bagi keimanan kita. Digunakannya berbagai perumpamaan yang akrab dengan keseharian kita membuat pesan al-Quran menjadi terasa lebih nyata dan sesuai fakta. Untuk mereka yang suka kepo dan sibuk kasak-kusuk membicarakan orang lain, al-Quran menggunakan perumpamaan yang begitu menyengat: "Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang dari kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya" (Al-Hujurat: 11-12)
    Di bulan suci ini, semoga kita bisa berpuasa bukan saja dari makan dan minum tapi juga dari "memakan bangkai daging saudara kita" seperti pesan di atas. Kita juga dianjurkan banyak-banyak bersedekah di bulan suci, tetapi jangan sampai hilang pahala sedekah kita karena riya', atau menyebut-nyebut terus sedekah kita atau memberi sambil ngomel hingga menyakiti si penerima sedekah, "maka perumpamaan bagi yang demikian itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan..." (al-Baqarah : 264). Hilang. Licin dan bersih. Pahala kita habis.
    Al-Quran juga menggunakan 'cerita rakyat' sebagai perumpamaan dalam menuturkan pesan moralnya. Ada kisah perempuan pemintal benang wol yang bernama Raithah. Kisah ini sangat dikenal oleh masyarakat Arab sebelum datangnya Islam. Digunakannya kisah Raithah ini langsung menyentak kesadaran mereka yang pagi hari mengaku masuk Islam, lantas sore hari memutus perjanjian dengan Allah dan RasulNya serta meninggalkan keimanan karena melihat jumlah orang kafir lebih banyak saat itu: "Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, kamu menjadikan sumpah (perjanjian) mu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain (Al-Nahl: 92).
    Perumpamaan ini sangatlah indah. Adalah perbuatan bodoh dan sia-sia meninggalkan keimanan kita persis seperti Raithah yang setiap pagi memintal benang wol dan ketika sudah jadi kain di sore hari ia robek lagi. Atau seperti mahasiswa tingkat akhir yang stress belum dapat kiriman uang buat mudik sehingga baju yang sudah di cuci bersih dan diseterika rapi, ehh ia cuci kembali.
Kisah
    Setelah mengupas tentang dua metode al-Quran dalam menyampaikan pesan ilahi, yaitu dengan cara berdialog dan membuat berbagai perumpamaan, tibalah saatnya kita bahas metode ketiga, yaitu al-Quran berkisah. Tadarus kita di bulan suci ini semoga dapat membawa kita berkelana memasuki relung berbagai kisah yang Allah ceritakan kepada kita, seraya mengambil pelajaran darinya.
    Pertama, terrdapat kisah yang fokus pada pelaku sebagai objek cerita. Ini kita temui dalam kisah mengenai tokoh baik mereka termasuk Nabi atau bukan. Kedua, kisah seputar kaum terdahulu. Apa yang dialami oleh berbagai komunitas dalam sejarah peradaban dunia, baik yang jejak peninggalannya masih bisa kita temui ataupun yang sudah tak terlacak. Ketiga, al-Quran kadangkala berkisah tentang peristiwa yang pelakunya diceritakan secara samar, karena hendak fokus pada peristiwa atau objek cerita.
    Ada kisah dalam al-Quran yang sebelumnya sudah diceritakan di dalam Bibel, namun detil ceritanya berbeda. Ada pula tokoh yang di dalam Bibel diceritakan dengan negatif seperti Daud dan Ya'kub, tapi dalam al-Quran diceritakan dengan positif. Ada pula tokoh yang tidak ada dalam Bibel seperti Samiri, dan ada pula yang peranananya dalam Bibel tidak begitu menonjol tapi dalam al-Quran diberi peran yang cukup besar seperti kisah Nabi Harun. Yang jelas kisah Musa merupakan kisah yang paling banyak diceritakan dalam al-Quran dan Kisah Yusuf menjadi kisah yang paling indah dan paling lengkap terkumpul dalam satu surah.
    Ada sementara pakar yang meragukan kenyataan kisah-kisah dalam al-Quran. Apakah benar dalam sejarah terjadi banjir Nuh yang dahsyat itu? Apa benar ada tokoh bernama Balqis? Al-Quran jelas bukan buku sejarah, ini adalah kitab petunjuk. Kalau ia berkisah tentang cerita terdahulu tentu titik tekannya ada pada pesan moralnya. Lagipula tuduhan al-Quran hanya memuat dongeng itu sudah dilontarkan sejak dulu. "Orang-orang kafir itu berkata, "Al-Quran ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu" (QS al-An’am : 26). Hal ini dibantah dengan jelas oleh Allah: “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (Qs Yusuf: 111)
    Kenapa al-Quran menggunakan pendekatan bertutur lewat kisah, bahkan lebih banyak ayat mengenai kisah ketimbang ayat tentang hukum? Itu karena pada dasarnya manusia senang mendengar, membaca dan menyaksikan kisah. Betapa banyak novel yang telah ditulis. Lihat saja program tv yang full dengan kisah sinetron. Ataupun seringkali orang tua dan guru menceritakan legenda cerita rakyat untuk menyampaikan nasehat atau peringatannya kepada kita. Kisah adalah salah satu medium pengajaran yang paling efektif.
    Kisah yang diceritakan dalam al-Quran itu cukup ringkas sehingga tidak menyita waktu untuk meresapinya. Di samping itu, cerita yang dahsyat itu adalah yang mampu menyerap emosi pendengar seolah-olah kisah itu nyata dan tampak dihadapan mereka padahal kita tidak berada di sana. Inilah cara berkisah yang dilakukan al-Quran secara piawai dan menawan hati. Misalnya dalam Qs Ali Imran: 44 Allah berfirman: "Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita ghaib yang Kami wahyukan kepada kamu (ya Muhammad); padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa."
    Gaya yang sama juga terdapat dalam QS Yusuf ayat 102: "Demikian itu (adalah) diantara berita-berita yang ghaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); padahal kamu tidak berada pada sisi mereka, ketika mereka memutuskan rencananya (untuk memasukkan Yusuf ke dalam sumur) dan mereka sedang mengatur tipu daya."
    Al-Quran juga menempuh cara yang unik, yaitu mengulang-ngulang kisah. Tapi pengulangan kisah itu dilakukan dengan gaya bahasa, sisi dan redaksi yang berbeda seolah kita memulai kembali kisah yang baru dengan kandungan hikmah yang semakin bertambah. Ini pelajaran penting untuk para dai di bulan suci yang gemar mengulang-ngulang materi ceramah dari satu Ramadan ke Ramadan berikutnya. Kalaupun terpaksa mengulang materi usahakan ada pelajaran baru di sana.


Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel