Tentang Hermeneutika Hans-Georg Gadamer



Gadamer adalah seorang filsuf terkemuka di bidang Hermeneutika Filosofis.

Miftahfaridsa.Site - Gadamer adalah seorang filsuf terkemuka di bidang Hermeneutika Filosofis. Adapun karangannya yang tersohor di bidang Hermeneutika adalah Truth and Method.  Georg Gadamer dilahirkan di Marburg tahun 1900. Dia belajar filsafat kepada Nikolai Haetman dan Martin Heidegger di Uneversitas di Kotanya. Dia juga kuliah pada Rodolf  Butman seorang teolog protestan yang cukup terkenal. Pada tahun 1922 dia memperoleg gelar Doktor  filsafat. Pada tahun 1929 dia menjadi privatdozent di Marburg dan menjadi profesor di tempat yang sama pada tahun 1937. Tahun 1939 dia pindah ke Lipzing dan tahun 1947 pindah ke Frankrutan Main. Sejak tahun 1949 dia mengajar di Heildelberg sampai pensiun. Menjelang masa pensiunnya pada tahun 1960, karier filsafat Gadamer justru mencapai puncaknya, yaitu melalui publikasi bukunya yang berjudul “ Publikasi dan Metode” (Truth and Method). Karya ini merupakan dukungan yang sangat tinggi bagi karya Heidegger yang berjudul Sin und Zeit (being and Time). Bahkan gagasan Gadamer berpengaruh pula dalam ilmu-ilmu kemanusiaan seperti dalam sosiologi, teori kesusastraan, sejarah, teologi, hukum dan bahkan filsafat ilmu pengetahuan alam.

Proyek filsafat Gadamer, seperti dijelaskan dalam Truth and Method adalah menguraikan konsep “Hermeneutika Filosofis” yang dimulai oleg Heideger, namun tidak pernah dibahasnya secara panjang lebar. Tujuan Gadamer adalah mengungkapkan hakikat pemahaman manusia. Dalam bukunya Gadamer berargumen bahwa “kebenaran” dan “metode” saling bertentangan. Ia bersikap kritis terhadap kedua pendekatan terhadap Humaniora. Diasatu pihak ia kritis terhadap pendekatan modern terhadap humaniora yang mengikuti model ilmu-ilmu alam, di pihak lain ia mempersoalkan pendekatan tradisional dalam humaniora yang muncul dari Wilhelm Dilthey, yang percaya bahwa penafsiran yang tepat terntang teks berarti mengungkapkan niat asli sipengarang yang menuliskannya.

 PEMIKIRAN GEORGE GADAMER

a.    Kebenaran Sebagai yang tak tersembunyi

Gadamer memilah secara dikotomis antara kebenaran dan metode.  Gadamer tidak pernah mengidealisasikan hermeneutika sebagai sebuah metode, karena pemahaman yang ditekankannya adalah tingkat ontologis, bukan metodologis. Menurutnya, kebenaran menerangi metode-metode individual, sedangkan metode justru merintangi atau menghambat kebenaran. Untuk mencapai kebenaran, kita harus menggunakan dialektika, bukan metode, sebab dalam proses dialektis kesempatan untuk mengajukan pertanyaan secara bebas lebih banyak kemungkinannya dibandingkan dengan dalam proses metodis. Dialektika Gadamer lebih mengacu pada dialetika Sokrates, yang lebih tepat dikatakan suatu dialog, tidak mengacu ke Hegel. Bagi Gadamer manusia mampu memahamai karena ia mempunyai tradisi dan tradisi adalah bagian dari pengalaman kita, sehingga tidak akan ada pengalaman yang berarti tanpa mengacu pada tradisi.

b.    Bahasa

Secara etimologis hermeneutik berasal dari  bahasa Yunani hermeneuein. Hermeneuein berarti “menginterpretasikan”, “menafsirkan”. Kita sudah sering mendengar dan menggunakan kata menginterpretasi atau interpretasi. Kata itu dipakai hampir di semua ruang lingkup hidup. Kata Yunani ini, hermeneuein memuat 3 arah arti , yakni: “menyatakan” atau “mengungkapkan dengan lantang”, ‘meresitir’; menjelaskan” atau menerangkan situasi’; “menerjemahkan” atau ‘mengalihbahasakan ke bahasa asing’. Makna menerjemahkan (mengalih-bahasakan ke bahasa asing) inilah yang dimengerti dewasa ini. Hermeneutik menuntun orang pada pemahaman (understanding) dalam arti luas, hermeneutika adalah sebuah disiplin yang berurusan dengan logos., bukan hanya interpretasi makna tekstual, tetapi juga arti realitas.

Bagi Gadamer, bahasa merupakan  suatu realitas yang tidak dapat dipisahkan dari pengalaman, pemahaman, maupun  pikiran manusia. Karena untuk mengerti sesuatu kita tidak mungkin lepas dari bahasa, begitu juga halnya dengan pengalaman hermeneutik pun tidak lepas dari bahasa. Bagi Gadamer, bahasa merupakan medium pengalaman hermeneutik.
Menurut Gadamer, bahasa yang umum harus dicari dalam setiap pengalaman hermeneutik. Sebab jika para filsuf berbicara dengan menggunakan suatu bahasa yang tidak seorangpun mengerti, ini berarti sama saja mereka tidak berbicara apa-apa (nihil). Dengan ini Gadamer mau menegaskan bahwa persoalan bahasa adalah tugas hemeneut. Pemahaman hanya mungkin dimulai bila bermacam-macam pandangan menemukan satu bahasa umum untuk saling bercakap-cakap.

Orang yang mampu  menjembatani  jurang antara dua bahasa, memberi titk terang yang penting. Terjemahan bagaikan interpretasi dan penerjemahnya, seperti juga pada hermeneut, akan menggunakan bahasa untuk menentukan bahasa. Sebagaimana disebutkan bahwa tugas hermeneutik adalah terutama memahami teks, maka pemahaman itu sendiri mempunyai hubungan yang fundamental dengan bahasa. Kita menumbuhkan di dalam bahasa kita sendiri unsur-unsur penting dari pemahaman, sehingga para pembicara asli (native speaker) tidak akan gagal untuk menangkap nuansa-nuansa bahasanya sendiri. Memang kita akui juga memindahkan konsep dalam bahasa yang satu ke bahasa yang lain bukanlah perkara yang gampang. Kita ambil contoh kata pain (bahasa Inggris). Dalam bahasa Indonesia tidak ditemukan istilah yang dengan tepat mengungkapkan makna konsep, proses, keadaan atau sifat yang dimaksud dengan kata Pain. Maka dicari istilah dalam bahasa serumpun yang lazim. Untuk itu, kata pain (Inggris) lebih tepat diterjemahkan nyeri (bahasa Sunda).
Perpaduan antara cakrawala mungkin selalu efektif di dalam penerjemahan. Namun Gadamer menegaskan bahwa interpretasi/terjemahan akan tepat bila pembacanya mengalami suatu kehalusan dan irama bahasanya yang teratur. Dengan kata lain terjemahan itu akan indah sekali bila tidak setia pada bahasa aslinya dan bila setia sering terjemahan itu tidak indah lagi. Artinya terjemahan yang baik tidak menurut kata-perkata (letterlet) tetapi disesuaikan dengan lagak ragam bahasa sendiri.
Dalam berbicara, hermeneutik adalah bagaikan terjemahan. Melalui bahasa kita tidak hanya melakukan interpretasi atas sebuah teks atau dokumen tertulis saja melainkan juga benda-benda yang bukan bahasa seperti patung, komposisi musik, lukisan-lukisan dan lain sebagainya.

Dari semua uraian di atas Gadamer mau memperlihatkan–bahwa pemahaman (pengertian) adalah interpretasi dan interpretasi itu terjadi dengan perantara bahasa. Bahasa sebagai perantara  pengalaman  hermeneutik berkaitan erat dengan teks yang mau dipahami. Dalam hal ini Gadamer tidak mencari pengarang yang bersembunyi di belakang teks melainkan mencari apa yang terjadi di antara teks dan juru tafsir. Penafsiran teks-teks dapat disebut suatu percakapan dimana bahasa berfungsi sebagai perantara antara teks dan si penafsir

c.    Bahasa: Bukan Tanda, Bentuk, dan Alat

Secara etimologis kata  “bahasa” berasal dari bahasa Latin “Lingua” yang berarti lidah atau bahasa. “Lingua” diartikan sebagai kumpulan kata-kata, arti kata yang standar dengan bentuk ucapan yang digunakan dan sebagai metode komunikasi. Bahasa sebagai kegiatan universal insani untuk membentuk sistem dan tanda-tanda sesuai dengan aturan asumsi yang diterima secara umum.
Hans-Georg Gadamer memberikan sebuah pandangan yang berharga untuk kita pahami tentang bahasa. Konsep bahasa yang dimaksud Gadamer bukan hanya dalam pemahaman saja, tetapi lebih pada bentuk bahasa itu yang biasa kita pakai. Kenyataan tidak pernah berlangsung di belakang panggung bahasa melainkan selalu berada dalam diri bahasa itu sendiri. Oleh Karena itu setiap dialog atau komunikasi yang kita lakukan sehari-hari tergantung pada luasnya pengetahuan kita tentang bahasa.

Menurut Gadamer, sejak dipakainya ide “logos” di dalam pemikiran Yunani, bahasa diperlakukan sebagai teori tanda. Sejak saat itu kata menjadi tanda dari suatu realitas yang telah ditentukan batas-batasnya sesuai dengan hakekat sebagai tanda, kata berfugsi untuk diterapkan kepada suatu hal. Karena kata sebagai tanda dan tanda tersebut siap dipakai, maka kata terserah atau diserahkan kepada pemakai kata (tanda) tersebut. Dengan demikian bahasa menjelma sebagai alat subjek semata yang terpisah dari realitas yang dipikirkan. Konsekuensi dari bahasa menjadi tanda adalah bahwa kata berasal dari manusia dan kata berada di bawah manusia. Bagi Gadamer hal itu kurang tepat. Karena kata itu sendiri adalah milik realitas. Realitas sendirilah yang mengungkapkan diri dalam kata-kata. Konsepsi yang mengatakan bahwa kita menciptakan kata dan kemudian memberinya arti: menurut Gadamer konsep itu tidak benar, karena kata bukan hasil pemikiran refleksi. Pada setiap pengalaman, kita tidak mencari suatu kata untuk menujukkkan objek yang sudah dialami. Kalau kita mencari kata yang tepat tidak berarti bahwa kita mencari tanda untuk objek yang sudah hadir.

Bahasa merupakan keseluruhan sistematis yang terdiri dari unsur-unsur yang masing-masing mempunyai fungsinya sendiri. Bahasa itu bukan substansi, melainkan bentuk saja. Maksudnya bahwa dari mana bahasa itu ada tidak mempunyai peranan. Yang terpenting dalam bahasa adalah aturan-aturan yang mengkonstitusinya. Gadamer mengatakan bahwa bahasa itu bukanlah bentuk melainkan yang dikatakan itulah yang merupakan pokok masalah.

Bahasa lebih daripada suatu sistem tanda-tanda saja. Pandangan ini bertitik tolak dari adanya kata-kata yang memandang objek-objek sebagai suatu yang kita kenal lewat sumber lain. Antara kata dan benda terdapat kesatuan yang begitu erat, sehingga mencari suatu kata sebetulnya tidak lain daripada mencari kata yang seakan melekat pada benda. Demikian bahasa bagi pemikiran Gadamer membentuk suatu kesatuan yang tak terpisahkan.

Bahasa sebagai alat yang tumbuh dengan menghasilkan perkembangan pemikiran sehingga pengaruhnya memiliki struktur dan pemikiran yang jelas. Menurut Gadamer banyak problem tentang bahasa tidak terpecahkan. Bagi Gadamer bahasa adalah alat komunikasi dalam pergaulan manusia. Tetapi hal itu bukanlah makna tedalam dari bahasa itu sendiri. Bila bahasa dipandang sebagai alat saja, berarti suatu saat bahasa dapat ditinggalkan atau dibuang apabila tidak diperlukan. Namun tidak demikian halnya. Pengalaman kita tidak mulai tanpa kata-kata. Antara kedua hal ini memiliki kaitan yang erat. Gadamer menekankan bahwa pemikiran dan pengalaman bersifat kebahasaan. Oleh karena itu, Gadamer menyebut bahasa sebagai perantara bukan alat, tanda, dan bukan bentuk.

Dari uraian di atas, Gadamer mau menekankan bahwa bahasa merupakan realitas yang tidak terpisakan dari pengalaman, pemahaman, dan pemikiran manusia sendiri. Dengan demikian bahasa adalah perantara pengalaman nyata. Sehingga konsekuensi positifnya bahwa bahasa merupakan bagian dari filsafat yang paling sulit dan paling banyak menimbulkan tanda tanya.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel