PEMIKIRAN PAUL RICOEUR; HERMENEUTIKA DAN SIMBOL



Paul Recoeur lahir di Valence, Perancis Selatan, pada tahun 1913

Miftahfaridsa.Site - Paul Recoeur lahir di Valence, Perancis Selatan, pada tahun 1913. Ia terlahir dari sebuah keluarga Kristen Protestan yang religius dan dipandang sebagai cendekiawan kenamaan di Perancis. Ia dibesarkan sebagai yatim piatu di Rennes. R. Dalbiez, seorang filusuf kenamaan Perancis, adalah orang yang pertama kali memperkenalkannya pada filsafat. Pengetahuannya yang mendalam tentang filsafat inilah yang membuatnya mendapatkan ‘Licence de philoshopie’ pada tahun 1930, tiga tahun setelah tercatat sebagai mahasiswa S.2 di Universitas Sorbonne. Keanggotaan “Aggregation de philosophie’ diperolehnya pada tahun 1935.

Ricoeur dipanggil untuk mengikuti program wajib militer mulai tahun 1937, satu tahun setelah mengajar di Colmar. Pada saat mobilisasi, Ricoeur masuk dalam dinas ketentaraan Perancis dan menjadi tahanan perang di Jerman hingga tahun 1945. Selama dalam tahanan inilah dia mempelajari karya-karya Husserl, Heidegger dan Jaspers. Bersama dengan sahabatnya yang berada dalam satu tahanan, Mikel Duffrenne, pada tahun 1947 Ricoeur menulis buku yang berjudul Karl Jaspers et la Philosophie de l’existence. Pada tahun yang sama, dia juga menulis buku berjudul Gabriel Marcel et Karl Jaspers.  Setelah bebas, dia menjadi dosen filsafat pada College Cavinol, pusat Protestan internasional untuk pendidikan dan kebudayaan di Chambonsur-Lignon.

Tahun 1948 menjadi tanjakan awal Ricoeur sebagai seorang akademisi dengan mengepalai bidang sejarah filsafat di Universitas Strasbourg, menggantikan Jean Hyppolite. Dua tahun kemudian, dia menyabet gelar Docteur des Lettres, doctor bidang kesusasteraan, dengan tesis yang berjudul Philosophie de la Volonte (filsafat kehendak). Pada tahun 1957, dia diangkat sebagai guru besar dalambidang filsafat di Universitas Sorbonne. Karena adanya keinginan untuk lebih intens melakukan pembinaan terhadap mahasiswa, pada tahun 1966, dia memilih untuk mengajar di Nanterre, salah satu filliah Universitas Sorbonne yang berada di pinggiran kota Paris. Nanterre sendiri dibuka karena Universitas Sorbonne sudah tidak dapat lagi menampung animo mahasiswa yang semakin membludak. Dua tahun kemudian, diangkat sebagai dekan di tempat tugasnya yang baru tersebut. Namun jabatan tersebut ditinggalkannya ketika terjadi gejolak mahasiswa yang berdemonstrasi yang memancing kehadiran polisi di kampus itu. Demonstrasi tersebut menyebabkan kedudukan pemerintahan Jenderal De Gaulle goyah dan nyaris jatuh.  Pada tahun 1968, Universitas Katolik Nijmegen, Belanda, menganugerahinya gelar doctor honoris causa untuk bidang teologi.
Setelah meletakkan jabatan sebagai dekan di Nanterre, Ricoeur pindah ke Universitas Louvain di Belgia. Namun pada tahun 1973, dia berpindah lagi ke Nanterre, di mana pada saat yang sama dia juga diangkat menjadi guru besar luar biasa di Universitas Chicago. Dia juga diangkat menjadi direktur pada Pusat Studi Fenomenologi dan Hermeneutika di Paris. Semenjak itu, dia semakin banyak masalah filsafat bahasa dan hermeneutika. Bukunya yang berjudul La Metaphore Vive terbit pada tahun 1975.

Pada tahun 1986, Ricoeur mendapatkan kehormatan untuk membawakan The Gifford Lectures yang sangat prestisius di Universitas Edinburgh, Skotlandia, dengan judul On Selfhood : The Queston of Personal Identity. Menurut tradisi yang telah berjalan cukup lama, The Gifford Lecturers ini memberikan kesempatan pada seorang sarjana besar kenamaan untuk melakukan sintesa atas seluruh pemikirannya. Transkrip paper yang disampaikannya dalam acara prestisius tersebut, setelah ditambah dengan paper makalah yang dipresentasikannya di Universitas Munchen, Jerman dan Universitas Roma, Italia, menjadi sebuah karya besar dengan judul Soi meme comme un antre, yang terbit pada tahun 1990.

Sebagai seorang filusuf besar, Ricoeur sering diundang sebagai pembicara dalam berbagai seminar, kongres atau lokakarya, baik di dalam maupun luar negeri. Tema yang dimintakan padanya sangat beragam, dan dia menyoroti tema yang bersangkutan dalam perspektif filosofis yang sangat dikuasainya. Dia juga banyak menulis di Majalah Esprit dan Christianisme Social.

PEMIKIRAN PAUL RICOEUR

a.    Teks dan Hermeneutika Simbolik
Meski banyak memiliki keragaman perspektif kefilsafatan, namun keseluruhan filsafat Ricoeur nampaknya mengarah pada hermeneutika, terutama pada interpretasi. Filsafat pada dasarnya adalah sebuah hermeneutic, yaitu kupasan tentang makna yang tersembunyi dalam teks yang kelihatan mengandung makna. Dia sendiri mengatakatan bahwa pada dasarnya seluruh filsafat adalah interpretasi atas interpretasi. Bahkan, dengan mengutip Nietzse, dia mengatakan bahwa hidup itu sendiri adalah interpretasi. Bila terdapat pluralitas makna maka di situ interpretasi diperlukan. Apalagi jika simbol-simbol dilibatkan, maka interpretasi menjadi sedemikian penting, karena terdapat multi-lapisan makna. Setiap interpretasi adalah usaha untuk membongkar makna-makna yang masih terselubung, atau usaha membuka lipatan-lipatan dari tingkat makna yang terkandung dalam makna kesusasteraan.

Ricoeur memandang bahwa teks bersifat otonom untuk melakukan “dekontekstualisasi” atau melakukan “rekontekstualisasi”. Otonomi teks ada tiga macam, intensi atau maksud pengarang, situasi cultural dan kondisi pengadaan teks, dan untuk siapa teks itu dimaksudkan. Atas dasar otonomi teks tersebut, maka yang dimaksudkan dengan “dekontekstualisasi” adalah proses di mana materi teks “melepaskan diri” dari cakrawala tujuan pengarangnya. Teks membuka diri terhadap kemungkinan dibaca secara luas, di mana pembacaannya selalu berbeda-beda, tergantung latar belakang, ideology, psikologi dan lain-lain, dari pembacanya. Inilah yang dimaksudkan dengan “rekontekstualisasi”.

Dalam hal ini, Ricoeur mengatakan bahwa hubungan dengan dunia teks terletak pada hubungan dengan subjektifitas pengarangnya dan pada saat yang sama persoalan subjektifitas pembaca ditinggalkan. Untuk memahami sebuah teks, seseorang tidak perlu memproyeksikan diri terhadap teks, melainkan membuka diri terhadap teks. Dengan membuka diri terhadap teks, berarti kita “mengizinkan teks memberikan kepercayaan pada kita”. Jadi ada upaya meringankan dan mempermudah isi teks dengan cara menghayatinya. Dalam memberikan interpretasi terhadap teks, seorang interpretator tidak perlu bersitegang atau bersikap seolah-olah menghadapi teks yang beku, melainkan dia harus dapat “membaca ke dalam” teks itu.

Bagi Ricoeur, teks bersifat otonom, tidak bergantung atau berdiri sendiri, tidak bergantung pada maksud pengarang, pada situasi histories karya atau buku di mana teks tercantum dan pada pembaca-pembaca pertama. Hermeneutika tidak lagi mencari makna-makna yang tersembunyi di balik teks, tetapi mengarahkannya perhatiannya pada makna obyektif sebuah teks, terlepas dari maksud subyektif pengarang atau orang lain. Menginterpretasikan sebuah teks bukanlah mengadakan relasi intersubyektif antara subyektifitas pengarang dan subyektifitas pembaca, melainkan hubungan antara dua wacana, yaitu wacana teks dan wacana interpretasi. Interpretasi selesai bila “dunia teks” bersatu dengan “dunia interpretator”.

Ricoeur menyatakan bahwa dalam heremeutika ada tiga pembedaan yang tegas antara pemahaman, penjelasan dan interpretasi. Meski lingkaran tersebut hanya bersifat semu, seorang hermeneut harus memahami bahwa sirkularitas ketiganya tetap ada dan berjalan sedemikian rupa seolah-olah ketiganya saling menyusupi satu sama lain.

Ada tiga langkah pemahaman yang berlangsung dari penghayatan atas symbol-simbol ke gagasan tentang berpikir dari symbol-simbol. Pertama, langkah simbolik, yaitu pemahaman dari symbol ke symbol. Kedua, pemberian makna oleh symbol serta “penggalian” yang cermat atas makna. Ketiga, berpikir dengan menggunakan symbol sebagai titik tolaknya.  Ketika pemahaman dan penjelasan telah dilakukan, maka interpretasi dilakukan. Dalam proses hermeneutika ini, maka harus ada “perjuangan melawan distansi kultural”, yaitu penafsir harus mengambil jarak supaya ia dapat membuat interpretasi dengan baik. Interpretasi bisa dilakukan secara baik jika ada jarak dengan obyek yang dikritik. Meski demikian, kritik atau interpretasi juga akan membawa struktur-struktur yang sudah “jadi” dari gagasan-gagasan interpretator atau kritikus. Bahasa yang digunakan dalam struktur itu pun juga telah diberi “warna”. Karena itu, orang yang mmberikan kritik atau interpretasi sebenarnya telah membawa “anggapan-anggapan”. Ketika seorang hermeneut mengambil jarak dengan obyek yang ditafsirkannya, dia sebenarnya tidak bekerja dengan tangan kosong

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel